UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak di Indonesia, Sudah Efektifkah?

Hukum sangat diperlukan dalam masyarakat untuk mengatur kehidupan sehari-hari. Hukum adalah kaidah/ norma yang muncul dikarenakan gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Tanpa gejala sosial hukum tidak mungkin terbentuk dan sebaliknya. Hukum yang terbentuk tidak hanya hal-hal umum saja tetapi juga diperlukan dalam mengatur hal-hal tertentu dan khusus.

Adapun fungsi hukum itu sendiri adalah sebagai alat ketertiban dan keteraturan. Selain itu sebagai sarana untuk mewujudkan sosial lahir dan batin serta sebagai alat penggerak pembangunan. Dalam menjelaskan fungsi hukum tentu ada pula tujuan hukum itu sendiri, yaitu  keadilan, kepastian dan mencapai teori kegunaan. Keadilan yang dimaksudkan adalah bisa menjembatani jika terjadi benturan kepentingan antara individu/ golongan satu dengan individu/ golongan yang lain. Kemudian kepastian yang dimaksudkan adalah sebagai alat penjamin individu/golongan ketika melakukan suatu tindakan. Sedangkan yang dimaksud dengan mencapai teori kegunaan adalah hukum digunakan untuk memperoleh manfaat sebanyak-banyaknya. Parameter manfaat di sini yaitu bermanfaat untuk khalayak umum. Ketiga  tujuan hukum tersebut bisa tercapai dan berjalan efektif dalam kehidupan bermasyarakat apabila terjadi keseimbangan  antara keadilan, kepastian dan bermanfaat bagi orang lain.

Di Indonesia terdapat beberapa hukum yang mengatur kehidupan masyarakat tetapi dalam pengaplikasiannya sering terjadi ketidakefektifan hukum juga masih banyak terjadi pelanggaran dan manipulasi hukum. Salah satu hukum yang masih belum bisa efektif adalah  hukum tentang perlindungan anak. Di Indonesia hal tersebut sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Mengapa harus dibentuk hukum khusus dalam mengatur perlindungan anak? Padahal sebelumnya telah dibahas tentang hak anak dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam UU tersebut dijelaskan pula kewajiban dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara untuk memberikan perlindungan pada anak. Tetapi pada kenyataannya sering ada kerancuan parameter anak itu bagaimana. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak pada Bab I Ketentuan Umum, pasal 1 dijelaskan bahwa “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Jadi yang membedakan antara anak dan dewasa hanya umur saja. Sebenarnya mendefinsikan anak/ belum dewasa itu menjadi begitu rancu ketika melihat batas umur anak/ batas dewasanya seseorang dalam peraturan perundang-undangan satu dan lainnya berbeda-beda. Selain itu dalam UU sebenarnya masih banyak ketentuan lainnya yang menjelaskan seluk-beluk tentang anak. Maka dengan penjelasan lebih rinci diharapkan hal ini mampu jadi patokan dalam menganalisis suatu kasus yang terjadi, apakah masuk ranah anak atau dewasa.[1]

Undang-undang khusus tentang perlindungan anak ini juga diharapkan mampu menjadi UU yang jelas dan menjadi landasan yuridis untuk mengawasi pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab beberapa hal yang terkait dan yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, pertimbangan lain bahwa perlindungan anak merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional dan khususnya dalam meningkatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang tua, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan berperan serta yang mana hak ini sesuai dengan kewajiban dalam hukum. [2]

Kemudian timbul pertanyaan apakah UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak sudah efektif dalam melindungi hak-hak anak selama ini? Jawabannya adalah belum efektif dan belum sepenuhnya maksimal karena masih banyak terjadi kekerasan pada anak. Pada kenyataannya angka kekerasan terhadap anak  terus meningkat. Menurut catatan Pusdatin Perlindungan Anak Indonesia tahun 2005, tindak kekerasan sebanyak 736 kasus. Dari jumlah itu, 327 kasus perlakuan salah secara seksual, 233 kasus perlakuan salah secara fisik, 176 kasus kekerasan psikis. Sedangkan penelantaran anak sebanyak 130 kasus.[3]

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) juga mencatat selama tahun 2006 ada 1.124 kasus kekerasan yang dilakukan terhadap anak. Sebanyak 247 kasus di antaranya kekerasan fisik, 426 kekerasan seksual, dan 451 kekerasan psikis, kata Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi.[4]

(sumber gambar: anneahira.com)

Pada tahun 2008 kekerasan fisik terhadap anak yang dilakukan ibu kandung mencapai 9,27 persen atau sebanyak 19 kasus dari 205 kasus yang ada. Sedangkan kekerasan yang dilakukan ayah kandung 5,85 persen atau sebanyak 12 kasus. Ibu tiri (2 kasus atau 0,98 persen), ayah tiri (2 kasus atau 0,98 persen).  Dalam sehari Komnas Anak menerima 20 laporan kasus, termasuk kasus anak yang belum terungkap.[5] Jadi pada tahun 2008 masih meningkat lagi kasus kekerasan pada anak menjadi 1.626 kemudian masih tetap naik lagi menjadi 1.891 kasus pada tahun 2009. Dari 1.891 kasus pada tahun 2009 ini terdapat 891 kasus kekerasan di lingkungan sekolah, kata Direktur Nasional World Vision Indonesia.[6]

Pertanyaan paling mendasar adalah mengapa kekerasan terhadap anak semakin meningkat dari tahun ke tahun? Alasan yang paling utama adalah masalah perekonomian, peliknya perekonomian dalam keluarga mendesak anak untuk ikut dieksploitasi untuk mendapat uang demi sesuap nasi. Bentuk eksploitasi tersebut adalah menjadi pengamen atau pengemis, perdagangan anak (Komnas Anak selama 2006 terdapat 83 kasus perdagangan anak. Daerah yang harus diwaspadai adalah Pekan Baru dan Kalimantan Barat[7]), menjadi pekerja kasar bahkan yang sangat ironis adalah menjadi pekerja seksual. Kasus eksploitasi seksual komersial anak rawan terjadi di Bali, Manado, dan Batam. Menurut data Depsos pekerja seks komersial yang berusia 15 hingga 20 tahun mencapai 60 persen dari 71.281 pekerja seks komersial (PSK). UNICEF Indonesia memperkirakan pelacuran anak 30 persen dari 150 ribu PSK, sedangkan Universitas Atmajaya memperkirakan 50% dari PSK adalah anak-anak.[8] Parameter kekerasan terhadap anak yang sebelumnya dijelaskan diatas bukan saja dalam arti fisik tetapi konflik rumah tangga yang memperebutkan anak antara istri dan suami juga merupakan bentuk lain dari kekerasan.[9]

Kekerasan pada anak tidak hanya terjadi pada perekonomian keluarga yang lemah. Walaupun kondisi tersebut dominan dan memiliki kecenderungan lebih tinggi terjadi tetapi ternyata kondisi keluarga pada ekonomi atas/ menengah juga tidak menutup kemungkinan dan tidak luput dari kasus kekerasan pada anak. Mengapa bisa seperti itu? Karena pemahaman kurang orang tua, menurut beberapa orang tua melakukan kekerasan dalam arti mengingatkan anak agar tidak nakal adalah suatu bentuk kewajaran. Hal ini juga pernah diutarakan oleh beberapa orang tua dalam acara Pencanangan Gerakan Nasional Perlindungan Anak di Sekolah Gratis Yayasan Bina Insan Mandiri di Terminal Depok.[10]

Selain hal-hal yang dijelaskan sebelumnya juga disebabkan karena anak kurang mendapatkan perhatian dalam keluarga terutama orang tua. Orang tua terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal di luar. Sehingga orang tua menjadi tidak mengetahui bagaimana kehidupan anaknya dan lingkungan pergaulannya. Maka kemungkinan terburuk adalah kekerasan pada anak datang dari luar (lingkungan) dan berakibat fatal. Paling ironisnya lagi, orang tua seringkali  tidak mengetahui jika anaknya menjadi korban kekerasan lingkungan.

Kemudian ketika selesai menjelaskan panjang lebar tentang jumlah kasus kekerasan pada anak dan sebab terjadi kekerasan. Maka sangatlah perlu untuk memberikan solusi yang terbaik demi masa depan anak. Peran keluarga terutama orang tua di sini sangatlah penting. Perlindungan dan kasih sayang seharusnya semakin ditingkatkan. Perekonomian yang sulit jangan menjadikan anak sebagai bahan eksploitasi untuk mencari uang. Masa anak masih dalam tahap belajar dan bermain serta mengenal lingkungan. Hal tersebut adalah bekal mereka untuk mengahadapi kehidupan yang selanjutnya ketika mereka beranjak dewasa kelak. Pendidikan juga sangat wajib bagi anak, anak adalah tunas bangsa yang harus lebih diperhatikan kembali. Orang tua juga wajib dalam mengawasi lingkungan anak agar tidak menjadi korban kekerasan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pihak dari internal atau keluarga juga tidak cukup untuk mengurangi kasus kekerasan anak di Indonesia. Pemerintah harus memberikan ketegasan pada masyarakat mengenai UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, bila perlu memberikan sosialisasi bahwa ada UU bertujuan dalam perlindungan anak serta dijelaskan juga sanksi terhadap yang melanggar UU tersebut. Pemerintah juga harus memberikan fasilitas pelatihan dan pembelajaran anak. Maka pemerintah harus siap menampung anak-anak yang terlantar sesuai dengan bunyi UUD 1945 pasal 34 ayat 1, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Selain itu sangatlah perlu dilakukan peningkatan pemberdayaan badan pemerintah seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI merupakan lembaga independen yang kedudukannya sejajar dengan komisi negara lainnya. KPAI dibentuk pada 21 Juni 2004 dengan Keppres No. 95/M Tahun 2004 berdasarkan amanat Keppres 77/2003 dan pasal 74 UU No. 23 Tahun 2002. Dalam keputusan Presiden tersebut, dinyatakan bahwa KPAI bertujuan untuk meningkatkan efektifitas penyelengaraan perlindungan anak. KPAI diharapkan mampu secara aktif memperjuangkan kepentingan anak. KPAI bertugas melakukan sosialisasi mengenai seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelahaan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan kepentingan anak. Selain itu KPAI juga dituntut untuk memberikan laporan, saran, masukan, dan pertimbangan kepada Presiden dalam rangka perlindungan anak. Sejak awal didirikan, KPAI memperoleh dana untuk menjalankan segala tugas, fungsi, dan program-programnya karena dana bersumber dari APBN (dari Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Departemen Sosial) dan APBD. Sumber dana juga mungkin berasal dari bantuan asing jika memang ada lembaga asing atau organisasi internasional yang ingin bekerja sama dengan KPAI.[11] Pada kenyataannya selama ini KPAI kurang bisa berdaya guna. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih mengenal Komnas Anak daripada KPAI. Sehingga perlu adanya upaya pemerintah dalam memaksimalkan kinerja KPAI. Bila perlu KPAI bekerja sama dengan Komnas Anak karena Komnas Anak jam terbangnya lebih tinggi dan lebih mengetahui seluk-beluk kasus kekerasan pada anak di Indonesia. Sehingga kemungkinan besar kasus kekerasan pada anak bisa lebih ditekan angka peningkatannya dari tahun ke tahun karena ada dua badan yang langsung terjun di masyarakat.

Penjelasan-penjelasan solusi di atas diharapkan mampu efektif dalam menangani juga mengantisispasi terjadinya kekerasan pada anak. Pengembangan potensi anak juga diharapkan harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.[12] Saatnya semua lapisan masyarakat peduli pada anak. Bukankah hal ini harapan dan tugas kita bersama?

 

REFERENSI

_____. 2009. Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat. Dalam http://www.antara.co.id. Diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 03.29 pm

_____. 2009. Kekerasan Terhadap Anak. Dalam http://www.menegpp.go.id. Diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 02.57 pm

_____. 2007. Komnas Anak Catat 1.124 Kasus Kekerasan Terhadap Anak. Dalam http//www.kapanlagi.com. Diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 03.37 pm

Nanda. 2007. UU Perlindungan Anak, Benarkah Melindungi Anak?. Dalam http://qathrunnadacom.multiply.com. Diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 04.02 pm

Padma, Lia P. S. & Dian, Tamarika R.. 2009. Anak dan Instrumen Perlindungan Hukum di Indonesia. Dalam http:// duniaparenting.com. Diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 03.10 pm


[1] Padma, Lia P. S. & Dian, Tamarika R., Anak dan Instrumen Perlindungan Hukum di Indonesia, dalam http:// duniaparenting.com, 2009, diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 03.10 pm.

[2] ___, Kekerasan Terhadap Anak, dalam http://www.menegpp.go.id, 2009, diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 02.57 pm.

[3] Nanda, UU Perlindungan Anak, Benarkah Melindungi Anak?, dalam http://qathrunnadacom.multiply.com, 2007, diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 04.02 pm.

[4] ___, Komnas Anak Catat 1.124 Kasus Kekerasan Terhadap Anak, dalam http//www.kapanlagi.com, 2007, diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 03.37 pm.

[5] ___, Kekerasan Terhadap Anak, dalam http://www.menegpp.go.id, 2009, Loc cit.

[6] ___, Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, dalam http://www.antara.co.id, 2009, diakses tanggal 20 Maret 2010 pukul 03.29 pm.

[7] ___, Komnas Anak Catat 1.124 Kasus Kekerasan Terhadap Anak, dalam http//www.kapanlagi.com, Loc cit.

[8] Ibid.

[9] ___, Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, dalam http://www.antara.co.id, Loc cit.

[10] ___, Kekerasan Terhadap Anak, dalam http://www.menegpp.go.id, Loc cit.

[11] Padma, Lia P. S. & Dian, Tamarika R., Anak dan Instrumen Perlindungan Hukum di Indonesia, dalam http:// duniaparenting.com, Loc cit.

[12] ___, Kekerasan Terhadap Anak, dalam http://www.menegpp.go.id, 2009, Loc cit.

Oleh: Fauziah

NB: Mohon menjaga “orisinalitas’” tulisan ini. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang “jujur”. Terima kasih.

2 pemikiran pada “UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak di Indonesia, Sudah Efektifkah?

  1. Saya mau bertanya biar jelas dalam mendidik anak” saya kelak, apakah seorang ibu boleh memukul anaknya ? jika boleh sebatas apa dan dibagian mana? Jika tidak boleh, apakah sama sekali tidak boleh? Trimakasih.

    • Asslkm.
      salam kenal sebelumnya.
      sebagai calon orang orang yang sama-sama belajar.
      Kalau menurut saya, sebelum bertanya memukul anak atau tidak kita harus memahami dulu mengapa anak melakukan hal yang tidak kita inginkan atau sebuah kesalahan yang menyalahi norma.
      Mungkin saja penyebab anak kurang pemahaman atau kurang kasih sayang dari orang tua jadi melakukan hal salah agar diperhatikan (dia tidak tau cara berkomunikasi dengan ortu) atau bahkan karena melihat contoh buruk dari orang tua (ortu yang sikap buruk bisa menjadi pemicu anak mencontoh dan ini faktor yang sangat besar).
      Jadi sebelum menjustifikasi anak salah memang perlu tau duduk permasalahan yang jelas.
      Kita sebegai orang tua kelak juga harus mampu bersikap baik terutama sebagai pendengar yang baik dan memberikan nasehat seperlunya karena anak jaman sekarang kritis2 dan terkadang susah untuk terlalu banyak diceramahin karena bisa membuat anak jenuh dan jengkel sehingga menjauh dari ortu cuma karena hal remeh yaitu “bawel” dsb.
      Hal yang paling baik sebagai orang tua adalah memberikan contoh-contoh yang baik pada anak sehingga secara tidak langsung anak nilai-nilai kehidupan yang akan masuk dalam diri sang anak.
      Perlu juga sepakat ada reward atau punishment jika melanggar aturan (misalnya waktu disiplin ibadah dll) termasuk ortu harus terlibat di dalamnya jadi bukan anak saja yang merasakan reward atau punishment.
      Mengenai pemukulan sebenarnya bisa berdampak psikis bagi anak karena dalam ilmu psikologis kita anak bisa lebih bertindak anarkis terhadap lingkungan sekitar, bersikap keras kepala atau bisa timbul dendam yang ingin anaknya kelak juga merasakan hal yang sama.
      Dampak lain anak yang dipukul juga lebih tertutup jika ada masalah karena terlalu takut dengan orang tua. sebagai orang tua jangan sampai anak terlalu takut karena jika anak ada masalah besar gimana dan tumpuan tempat curhat atau bantuan yang baik cuma pada ortu karena mereka yang melahirkan dan membesarkan jadi akan melindungi (ini naluri).
      Jatuh bangunnya anak setidaknya ada orang tua di belakang mereka yang harus mendampinginnya dan bersama-sama menyelesaikan masalah. itulah orang tua yang baik nanti anak akan semakin hormat kepada ortunya.
      sekian jawaban saya, maaf saya juga harus banyak belajar jadi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. terima kasih. ^^

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s