Arti Pendidikan Dalam Hakekat Hidup

“Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara dan perbuatan mendidik.” [Kamus Besar Bahasa Indonesia]. Pengertian tersebut tidak boleh dipandang sebelah mata dan diacuhkan begitu saja. Pengertian tersebut mengandung makna yang luas karena mengaitkan pendidikan dengan tingkat kejiwaan atau pendewasaan seseorang melalui proses pengajaran dan pelatihan tertentu. Hal ini tentu membuat kita berfikir keras betapa pentingnya pendidikan. Lalu bagaimana cara kita agar mampu membuat pendidikan yang kita peroleh akan berdaya guna sepenuhnya dalam kehidupan kita? Tentunya hal tersebut adalah pekerjaan rumah yang begitu berat dan perlu kebijaksanaan untuk menjawabnya. Mengapa demikian? Karena kita selalu terdogmatis tentang pendidikan yang terkait dengan pendidikan formal (sekolah) padahal dari sekian banyak manusia pendidik (orang yang menuntut ilmu) sukses dalam hidup lebih banyak belajar dari lingkungan pendidikan informal, contohnya adalah belajar dari pengalaman hidup dirinya atau orang lain, berkiprah dalam organisasi, berinteraksi dengan orang lain dan masih banyak contoh yang lain.

Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang disamping harus dan dapat dididik juga harus dan dapat mendidik. Dalam hai ini diharapkan proses dididik dan mendidik dapat berkelanjutan atau terus-menerus. Sadar ataupun tidak sadar pendidikan adalah alat pengontrol emosi terutama tentang cara seseorang menyikapi berbagai permasalahan hidup dengan mencari jalan terbaik. Mengapa bisa demikian? Karena dalam pendidikan ada suatu pencerahan hati. Dalam pendidikan tersirat makna tentang hakekat diciptaknnya manusia dalam bumi ini. Hakekat kita hidup di dunia ini adalah mencari sebuah kebenaran suatu hal dan merenungkan tentang apa yang telah kita perbuat serta berusaha melakukan hal-hal yang berguna dalam hidup.

(sumber gambar: rumahfilsafat.com)

Pendidikan yang mencerahkan akan memanusiakan manusia yang artinya adalah kita yang akan memiliki kepribadian yang lebih toleran dan tidak berpikiran sempit. Dalam pandangan psikoanalitik, Sigmud Freud mengatakan bahwa struktur kepribadian seseorang meliputi tiga komponen yaitu Id, Ego dan Super ego. Id meliputi insting atau naluri yang mementingkan pemuasan dalam diri dan Ego yaitu tentang hal-hal berkenaan dengan keegoisan (mementingkan diri sendiri) sulitnya toleran pada lingkungan maka hal ini bisa menciptakan benturan antara dirinya dengan lingkungan. Maka harus ada Super ego yang mampu menjadi jembatan antara Id dan Ego dengan lingkungan terlebih lagi suatu realitas kehidupan. Jadi Super ego ini tepatnya berfungsi sebagai prinsip dasar realitas. Dalam Super ego perlu sekali pertimbangan dan pengetahuan yang matang dalam menentukan sikap agar tidak mengganggu lingkungan (dalam hal ini pendidikan menjadi sangat penting).

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah agar anak sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setingginya. Jelas sekali bahwa pendidikan yang tepat sasaran akan terbentuk kepribadian yang berkualitas sehingga tercapailah suatu kebahagiaan yang berupa sebuah keberhasilan. Ki Hajar Dewantara juga menekankan semboyan tentang Ing ngarso sung tulodo, kalau pendidik berada di depan maka dia harus mampu memberikan teladan yang baik pada orang-orang yang didiknya. Ing madya mangun kersa, artinya seorang pendidik harus berusaha memotivasi orang-orang yang dididiknya. Tut wuri handayani, artinya seorang pendidik harus mampu mengarahkan orang-orang yang dididiknya agar dapat berkembang secara mental dan adanya suatu tuntutan tanggung jawab bagi pendidik atas apa yang akan terjadi pada orang-orang yang dididiknya. Jadi diharapkan di sini adalah manusia pendidik terus mengembangkan dan menyalurkan pendidikannya demi kemajuan bersama dan tercapinya tujuan hidup seutuhnya serta tidak melepas rasa tanggung jawab atas orang-orang yang dididik.

Indikator yang harus diperhatikan pendidik terhadap perkembangan orang-orang yang dididik adalah kognitif, afektif dan psikomotor. Dengan keseimnbangan ketiga hal tersebut maka akan membuat orang-orang yang dididik akan mampu menolong dan mengembangkan dirinya dengan sangat baik. Indikator kognitif yaitu kemampuan intelektual yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. Indikator afektif yaitu kemampuan emosional dalam menghayati atau memahami berbagai hal yang terdiri dari kesadaran, partisipasi, penghayatan, pengorganisasian dan karakterisasi. Indikator psikomotor yaitu kemampuan motorik dalam menggiatkan atau menggerakkan suatu hal.

Dari banyak hal yang telah dijelaskan tentang pendidikan. Apakah kita tetap mengelak tentang betapa pentingnya pendidikan? Betapa pentingnya pendidikan yang hingga mampu menjadi denyut nadi kehidupan dan dengan pendidikan tentunya kita mendapat sebuah pencerahan tentang makna dan hakekat hidup di dunia ini.

Oleh: Fauziah

NB: Mohon menjaga “orisinalitas’” tulisan ini. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang “jujur”. Terima kasih.

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s