Hafalan Sholat Delisa

Novel ini salah satu novel bestseller di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu novel ini sudah ada di layar lebar. Tere Liye lagi-lagi berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca dalam novel ini. Penyampaian cerita yang unik dan sangat menarik walaupun dengan teknik penulisan kronologis. Bahkan mampu menghadirkan rasa penasaran yang besar tiap lembar ke lembar.

Novel ini mengisahkan tentang Delisa, gadis kecil yang sangat ceria dan harus mengalami musibah yang besar yaitu kehilangan ibu dan saudara-saudaranya akibat Tsunami. Lokasi yang di ambil dalam penulisan ini adalah wilayah Lhok Nga yang ada di Aceh. Kehidupan Delisa sangat sederhana namun begitu bahagia karena keluarganya lengkap, terutama ibunya yang shaleha, sangat penyabar serta penyayang; kakak-kakaknya yang baik dan perhatian; serta ayahnya yang bertanggung jawab dan penyayang.

Semangat Delisa tidak hilang ketika diterjang musibah yang membuat dia terpaksa berpisah dengan ibu dan kakak-kakaknya. Pada saat orang mengalami trauma dan sedih berkepanjangan, Delisa menjadi malaikat kecil yang menghibur banyak orang yang sudah mulai putus asa termasuk ayahnya.Keikhlasan Delisa atas musibah ini diuji. Cara berpikir Delisa yang sangat sederhana mengenai kehidupan sehingga mengingatkan sebagaian besar dari kita yang berpikir rumit dan terlalu takut akan masa depan yang tidak pasti dan abstrak. Padahal hanya Allah tempat satu-satunya berserah diri atas semua kesedihan kita dan nikmat yang kita raih.

Tere Liye juga menghadirkan pesan untuk pentingnya sholat dengan khusyuk dengan memahami pengertian bacaan sholat dengan sepenuh hati. Ibadah dengan sepenuh hati kepada Allah itu banyak bentuknya, termasuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan membantu sesama.

Selain itu,  dalam novel ada sebuah “monolog” menarik yang berbentuk footnote.  Monolog dengan sudut pandang  “aku”  adalah monolog sang penulis tetapi pada hakikatnya kita semua mengalami dan memikirkan hal yang hampir sama dengan penulis. Maka dari itu monolog bisa dijadikan bahan renungan atas apa yang menimpa Delisa. Tere Liye rupanya ingin berbagi dari heart to heart dalam monolog tersebut. Mencoba memperlihatkan fitrah kita sebagai manusia di hadapan Allah dan betapa kecil sekali dan tidak berdayanya kita tanpa Allah.

Novel ini juga dihiasi beberapa kritik terhadap pemerintah saat kejadian Tsunami di Aceh yang beberapa waktu lalu. Mengapa orang asing menjadi pelopor yang menolong pertama kali korban di Aceh? Hal ini dikemas dengan begitu lugas di beberapa bagian cerita.

Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dalam novel ini maka jadikanlah novel ini sebagai sahabat di waktu senggang anda.

Oleh: Fauziah

NB: Mohon menjaga “orisinalitas’” tulisan ini. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang “jujur”. Terima kasih.

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s