Keberhasilan Negara Malaysia dalam Menghadapi Belenggu Krisis Finansial Asia Tahun 1997 (Strategi dan Prestasinya)

Krisis finansial Asia tahun 1997 yang lalu telah memporak-porandakan perekonomian di sejumlah negara-negara di Asia temasuk Indonesia, Korea Selatan, Cina, Thailand dan Malaysia. Krisis ini mempengaruhi turunnya nilai mata uang di negara-negara Asia tersebut dan jatuhnya harga saham-saham serta menyebabkan lesunya pasar bursa. Pada waktu yang sama, ketika terjepitnya perekonomian negara-negara tersebut, akhirnya dihadapkan pada pilihan tentang cara-cara atau strategi penyelamatan diri dari krisis. Maka muncul organisasi keuangan internasional yaitu IMF yang dengan senang hati menawarkan diri memberikan pinjaman finansial untuk memperbaiki perekonomian mereka yang sudah bobrok itu. Tentu saja dalam meminjam ada beberapa syarat yang ditawarkan oleh IMF kepada negara peminjam. Salah satu syarat dan sekaligus menjadi konsekuensi negara peminjam adalah adanya bunga yang cukup tinggi. Indonesia merupakan salah satu negara yang meminjam di IMF kemudian disusul oleh Korea Selatan. Sedangkan negara Malaysia paling mantap menolak tawaran kerjasama dengan IMF. Hal ini juga ditegaskan oleh PM Malaysia pada saat itu, Mahatir Mohammad menolak bantuan keuangan dari IMF walaupun IMF menjanjikan bahwa dengan meminjam dari mereka tentu negara yang tercekik krisis akan dapat dengan mudah keluar dari krisis tersebut. Sebelumnya, IMF juga diduga oleh sejumlah kelompok (kotra kapitalisme) yang merupakan siasat para hegemon (para pemilik modal terbesar yaitu kaum kapitalis) untuk bisa menguasai negara-negara dunia ke-3.


(sumber gambar: gambar-bendera.blogspot.com)

Jika melihat kembali dari sikap Malaysia sendiri yang sepertinya sangat yakin dengan kemandirian dan kemampuan bangsanya untuk keluar dari krisis. Dan kenyataan yang muncul adalah negara Malaysia ini berhasil keluar dari krisis tersebut dan mendapat pujian di banyak negara di dunia khususnya negara-negara di Asia sendiri. Padahal pada saat krisis terjadi mata uang Malaysia yaitu Ringgit jatuh tajam, bursa saham Kuala Lumpur jatuh 856 poin. Pengeluaran di sektor konstuksi menurun 23,5 %, produksi menurun 9 % dan agrikultur 5,9 %. Jumlah GDP negara merosot hingga 6,2 % pada tahun 1998.1)

Masih terkait dengan penjelasan sebelumnya, yang jadi pertanyaan besar adalah mengapa Malaysia mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat krisis 1997 tanpa bantuan IMF? Strategi apa yang digunakan Malaysia agar mampu mempertahankan ekonominya? Strategi utama adalah mematok nilai tukar mata uang Ringgit Malaysia dari harga pasaran sekitar 4,11 Ringgit Malaysia (RM) per dolar AS menjadi kurs tetap sebesar 3,8 RM per dolar AS pada akhir 1997.2) Hal itu didukung oleh dana cadangan yang dimiliki Malaysia pada waktu itu, sekitar 40 miliyar dolar AS. Adanya dana itu karena sebelum krisis neraca perdagangan Malaysia selalu mengalami surplus dan dana domestik bisa terus terjaga karena tingkat korupsi sangat kecil. Maka ada langkah-langkah untuk mendukung strategi itu yaitu adanya pengontrolan devisa agar pencapaian tujuan-tujuan pembangunan ekonomi domestik tepat sasaran, menyingkirkan para spekulan yang menyebabkan penurunan kurs begitu tajam, memperkuat sektor perbankan yaitu dengan cara membuat kerangka kerja dan peraturan lebih ketat yang juga harus sesuai dengan standar internasional terutama terkait dengan hubungan mengenai hutang macet dan penyediaan ketersediaan modal, kewajiabn keterbukaan dan transparasi juga sangat dibutuhkan agar informasi dapat diketahui dengan pasti serta ketegasan dalam bertindak dapat dipertanggungjawabkan.

Strategi yang dilakukan Malaysia ketika krisis ternyata memberikan kemajuan ekonomi yang cukup signifikan. Sejak tahun 1999, modal pembangunan negara mampu dialokasikan di berbagai bidang. Kestabilan ekonomi ini juga telah mendorong pemerintah memajukan investor domestik Malaysia. Hasilnya, misalnya Telkom Malaysia bekerja sama dengan SBC Communication dari AS untuk membeli 30% saham Telkom Afrika Selatan dengan harga 1,3 miliyar dolar AS.3) Selain itu pemerintah Malaysia menjalin hubungan kerja sama dengan Inggris yang notabene dulu adalah penjajah Malaysia, dengan adanya hubungan kerja sama ini Malaysia mampu melakukan investasi dengan baik di Inggris sekaligus Australia.4)

Dalam segi perkembangan ekspor, nilai ekspor meningkat menjadi hampir tiga kali lipat dalam periode 1997-2006 yaitu dari 217 miliyar RM menjadi 601 miliyar RM (sekitar 158 miliyar dolar AS). Impor juga meningkat menjadi 2,3 kali. Hal itu membuat neraca perdagangan dan neraca pembayaran semakin stabil dan memperkuat kedudukan valuta asing. Akhirnya hal ini memperkokoh sektor perbankan juga yaitu dana menjadi berkembang lebih cepat, tetapi perkembangan pinjaman terbatas.

Akibatnya suku bunga semakin rendah, base lending rate (BLR) adalah 10.7 % dalam tahun 1997 menjadi 6,5 % pada tahun 2007.5)
Tingkat inflasi rendah, pada tahun 1988-1997 tingkat inflasi umumnya pada 2,5 sampai 3,5 %. Pasca krisis, menjadi rata-rata 1,5 % sampai 3,1 % sampai tahun 2007. Walaupun inflasi tertinggi pada tahun 1998 yaitu mencapai 5,2 %.6)

Pendapatan per kapita masyarakat tahun 2006 rata-rata 19.739 RM atau sama dengan 5.335 Dolar AS. Artinya, pendapatan yang diperoleh rata-rata Rp 4,441 juta per bulan. Pendapatan per kapita tahun 2005 sebanyak 18.039 RM atau sama dengan 4.876 dollar AS.7) Adapun pendapatan keluarga di Malaysia juga selalu meningkat setiap tahun. Pada tahun 1990 hanya 18.836,8 RM, tahun 1995 menjadi 29.200,8 RM, tahun 2000 sebesar 39.131,4 RM, dan tahun 2005 mencapai 46.323,5 RM.8)

Bagaimana dengan tingkat pengangguran? Dalam literatur ekonomi, suatu negara disebut telah mencapai tingkat kesempatan kerja penuh apabila tingkat penggangguran kurang dari 4 % dari keseluruhan tenaga kerja. Pada tahun 1997 tingkat pengangguran di Malaysia adalah 2,5 % dan naik menjadi 3,5 % tahun 1998. Setelah itu tingkat pengangguran berada pada rata-rata 3 % sampai 3,5 %. Tingkat ini jauh lebih rendah daripada negara-negara maju lainnya.9)

Masih banyak lagi keberhasilan ekonomi Malaysia pasca krisis. Hal ini seharusnya dijadikan pengalaman berharga tidak hanya bagi Malaysia sendiri tetapi juga negara-negara Asia lainnya. Bukankah Malaysia berani menolak mentah-mentah bantuan dari IMF? Mengapa? Karena Malaysia percaya pada kemampuan dan kemandirian bangsa negara sendiri untuk bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi pada saat krisis terjadi. Akhirnya terbukti!

Footnote:
1)___, Krisis Finansial Asia, dalam http://id.wikipedia.org, (Tanpa Tahun), diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 12.57 pm.
2)___, Malaysia Bangkit Tanpa Keterlibatan IMF, dalam http://bisnis.com, 2003, diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 12.39 pm.
3) Ibid.
4) Ibid.
5) Sukirno, Sadono, Malaysia, 10 Tahun Setelah Krisis, dalam http://nabble.com, 2007, diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 11.52 am.
6) Ibid.
7) Abidin Mahani, Zainal, Ekonomi Malaysia Kian Melaju, dalam http://nabble.com, 2007, diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 11.45 pm.
8) Ibid.
9) Sukirno, Sadono, Malaysia, 10 Tahun Setelah Krisis, dalam http://nabble.com, Op cit.

REFERENSI

_____. (Tanpa Tahun). Krisis Finansial Asia 1997. Dalam http://id.wikipedia.org. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 12.55 pm

_____. 1998. Dibalik Krisis Ekonomi. Dalam http://majalah.tempointeraktif.com. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 12.45 pm

_____. 2003. Malaysia Bangkit Tanpa Keterlibatan IMF. Dalam http://bisnis.com. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 12.33 pm

Abd Majid, Shabri. 2002. Belajar dari Keberhasilan Malaysia dalam Membangun Perekonomian Aceh Baru. Dalam http://acchinstitutc.org. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 12.12 pm

Abidin Mahani, Zainal. 2007. Ekonomi Malaysia Kian Melaju. Dalam http://nabble.com. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 11.43 pm

Grehenson, Gusti. 2000. Ekonomi Nasionalistik dan Kontrol Devisa, Kunci Keberhasilan Rezim Mahatir Bertahan dalam Krisis. Dalam http://www.ugm.ac.id. Diakses tanggal
31 Mei 2009 pukul 10.34 am

Khor, Martin. 2008. The Malaysian Experience in Finansial-Economy Crisis Management. Dalam http://rumahbetang.wordpress.com. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 10.05 am

Stiglitz, Joseph E. 2007. Keajaiban Ekonomi Malaysia. Dalam http://unisosdem.org. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 12.25 pm

Sukirno, Sadono. 2007. Malaysia, 10 Tahun Setelah Krisis. Dalam http://nabble.com. Diakses tanggal 31 Mei 2009 pukul 11.45 am

Oleh: Fauziah

NB: Mohon menjaga “orisinalitas’” tulisan ini. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang “jujur”. Terima kasih.

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s