Takdir Tuhan

[Cerpen ini dibuat tahun 2007]

Angin laut yang lembut seakan membelaiku dengan kehangatan. Dalam hati aku bertanya apakah angin laut ini memahami apa yang aku rasakan dalam benakku? Sebuah kepenatan tentang janji kosong dari seseorang yang pernah singgah di dalam hatiku. Seorang pria yang dulu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku juga berjanji selamanya ada buatku. Dia menyejukkan tiap detik hari yang kujalani. Entah mengapa saat mengingatnya jantung ini terasa sakit sekali dan air matapun tak kuasa aku bendung lagi. Apakah ini namanya Cinta Pertama. Walau aku tersadar dia bukan orang pertama dalam hidupku tetapi dia orang yang terakhir yang sangat aku cintai. Bagiku cinta pertama bukan orang yang pertama kita cintai tetapi orang yang benar-benar kita cintai dan yang paling berarti dalam hidup ini. Aku seakan berontak dalam hati ketika aku mengingat kepergiannya yang benar-benar membuatku sangat terpukul. Dia pergi untuk selama-lamanya. Aku tidak mengerti apa Takdir Tuhan dan apa yang dikehendaki-Nya. Aku seakan semakin larut dengan kesedihanku. Aku sangat berharap ini adalah mimpi belaka dan aku masih merasakan dia ada di sini mendekapku dan membelai diriku dengan penuh kasih sayang.

(sumber gambar: http://163.com)

Hari-hari berlalu seakan semakin lambat buatku. Aku semakin tidak mampu menikmati hidup seperti dahulu. Aku merasa sebagian nyawaku hilang, belahan jiwa dan curahan hatiku. Dia adalah pria yang sempurna di mataku. Tidak ada yang seperti dia. Dia selalu mengerti isi hatiku. Dia selalu mengisi hariku dengan senyuman yang berarti. Sungguh masih berat bagiku mnerima dia tidak disampingku lagi. Aku hanya mampu hidup apa adanya.

Suatu ketika aku menemukan surat cinta pertamaku di bawah tumpukan bajuku secara tidak sengaja. Aku pun teringat kalau pria yang memberiku surat pertama kali cuma pria yang telah meninggalkanku dengan banyak kenangan yang tak terlupakan. Aku akhirnya memberanikan diri membuka surat itu. Surat itu adalah isi hatinya waktu pertama kali menyatakan cinta padaku. Dulu aku sempat mengira dia tidak bisa mengungkapakan perasaanya lewat tulisan karena aku menganggap dia sangat supel dalam bergaul dan senang sekali bicara tapi tentu saja tidak secerewet diriku. Aku akhirnya membaca surat itu. Isinya…

Dear : Perempuan yang menggetarkan hatiku…

Aku pria yang selalu ingin menjaga senyum indahmu…
Melihatmu membuat hatiku semakin hangat…
Aku hanya mampu menyembunyikan rasa ini dalam gelap malamku…
Bulan yang cantik tak kuasa menahan tawa atas kebodohannku…
Akupun bertanya kepada bulan yang cantik itu…
Kenapa wahai bulan yang cantik kamu menertawakanku?
Dia hanya tersenyum simpul dan berkata…
Bahwa “aku telah jatuh cinta kepadamu…”

From : Pria yang selalu mengenangmu…

Aku hanya bisa menangis kembali ketika membaca surat itu. Tentu sudah sangat lama sekali aku tidak membukanya kira-kira tiga tahun yang lalu. Aku kembali untuk sekian kalinya terhanyut dalam sedihku. Aku lagi-lagi menyalahkan Tuhan kenapa Dia memberiku cobaan seberat ini? Disaat hati ini benar-benar menemukan belahan jiwa. Kenapa Dia mengambil kembali kebahagiaan ini?

Suatu hari aku mulai jenuh dengan apa yang aku lakukan. Aku terus-menerus membuat orang-orang yang menyayangiku semakin khawatir dengan keadaanku. Aku hampir lupa dengan mereka semua khususnya orang tuaku yang benar-benar sangat menyayangiku. Aku merasa amat bersalah kepada mereka semua. Setiap hari mereka berusaha menghiburku. Walau kematian pria yang kucintai sudah satu tahun lalu aku masih terpukul. Aku berusaha bangkit kembali dan berusaha menerima kenyataan yang ada. Aku harus sadar bahwa apapun yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya adalah yang terbaik buat dia. Walau sangat pahit yang terjadi selama ini pasti Tuhan punya maksud lain yang belum bisa aku ketahui. Misteri Tuhan sungguh luar biasa. Mungkin dibalik kesedihan yang panjang ini pasti ada kebahagian yang lebih panjang lainnya. Sekarang ini aku hanya mampu berusaha membahagiakan orang-orang di dekatku karena aku yakin suatu saat Tuhan juga memelukku kembali kepada-Nya.

Oleh: Fauziah

NB: Mohon menjaga “orisinalitas’” tulisan ini. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang “jujur”. Terima kasih.

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s