Review dan Analisis Kasus “Deterrence”

Pengertian Deterrence

a)      Robert J. Art

Pengiriman military power sehingga bisa mencegah musuh untuk melakukan tindakan yang tidak diinginkan oleh pengirim military power dan bisa melalui suatu ancaman dengan memberikan hukuman yang tidak dapat diterima bagi negara tersebut jika tetap melakukan tindakan yang tidak diinginkan tersebut.

b)      Barry Buzan

Untuk mencegah aktor lain melakukan tindakan-tindakan agresif sebelum tindakan itu terjadi melalui military threats.

c)      George A. Lopez dan Michael S. Stohl

Berhubungan dengan “ancaman” dimana negara A mengancam negara B dengan sanksi yang tidak bisa diterima untuk membuat negara B tidak jadi melakukan tindakan yang ingin dicegah oleh negara A.

Pihak yang Terlibat

a)      The Deterrer : Pihak yang mengancam/ pihak yang melakukan Deterrence.

b)      The Deteree  : Pihak yang diancam/ menjadi target Deterrence.

Logika Deterrence

a)      Mekanismenya dilakukan dengan cara ancaman dan ada mekanisme kalkulasi untung rugi.

b)      Mempertimbangkan bahwa pihak yang terlibat rasional (mempertimbangkan cost and benefit).

c)      Terkait dengan aspek psikologis bahwa ancaman itu dapat menimbulkan kerusakan yang menyengsarakan.

Kalkulasi Untung Rugi Deterrence

a)      Tingkat biaya yang mungkin muncul karena kehilangan dan kerusakan dari aset nasional akibat dari negara yang akan dikenai deterrence.

b)      Tingkat pendapatan atau gain yang didapat jika tetap melakukan tindakan berupa expanded-power, status, territory, increace independence, reduce threats, extended political influence. Jika gain lebih besar daripada cost maka deterrence akan diabaikan

Elemen dari Deterrence

a)      Tindakan- tindakan yang dikehendaki untuk dicegah (penyerangan terhadap wilayahnya, pembentukan aliansi yang tidak membahayakan, prestige) à the specific action

b)      Sarana/ cara untuk mengancam/ tindakan ancaman itu seperti apa sehingga negara yang deterred merasa diancam/ ancaman disampaikan dengan cara apa (the manner): threaten the psychology aspect.

c)      Meliputi weapon systems dan strategi pertahanan (defense strategy): nuclear dan non nuclear force –> komponen paling penting yang dapat mendukung ancaman (actions) yang hendak dilakukan.

Offence   –> Agresor, First strake (Deteree)

Deffence –> Second strake (Deterrrer)

Tipe Deterrence

a)      Strategic Deterrence

Ada konfrontasi nyata secara langsung antara negara A dan negara B.

b)      Extended Deterrence

Deterrence yang dilakukan oleh great power untuk melindungi aliansinya, teman atau negara netral.

Efektivitas Deterrence

Efektif jika tujuan tercapai (negara sasaran tidak jadi melakukan aksi):

a)      Jika negara deteree lemah/ soft, sensitive pada cost, maka akan gampang di deter.

b)      Jika negara deteree kuat/ hard, dan mau menerima konsekuensi apapun demi gain-nya, maka akan sulit di deter.

Variabel yang Mungkin Menggangu Logika Deterrence Menjadi Tidak Efektif

a)      Polarity

Jumlah kekuatan nuklir yang bertambah.

b)      Technology

Perkembangan teknologi membuat kalkulasi deterrence menjadi kabur.

c)      Geography

Apakah negara deterrer dan deteree berdekatan (yang menyulitkan penyerangan karena negaranya dekat, jadi efeknya bisa kena ke negara asal juga) atau berjauhan (adjacent vs remote)

d)     Political objective

Dari pihak deterrer (core –> strategic deterrence vs extended deterrence –> tujuannya melindungi aliansi).

Tujuan politik yang bisa berubah- berubah (kadang tidak menjadi rasional) yang mengaburkan logic deterrence jadi political objective mempengaruhi pola deterrence-nya.

e)      Political relations

Hubungan politik menghasilkan tujuan politik. Tujuan ini tentu bisa berubah-ubah tergantung kadar kepentingan tersebut. Sehingga membuat pola deterrence-nya yang cenderung subjektif.

Deterrence Sebagai Sebuah Teori dalam HI  

a)      First Wave (1940-an) bentuk intellectual respon pada perkembangan senjata nuklir.

b)      The Golden Age (1950-1960-an) deterrence yang telah dipraktekkan secara nyata sebagai respon dari arm race (nuclear arm race).

c)      Third Wave (after 1960-an) perubahan teknologi militer dan perluasan pemilikan militer.

Studi Kasus Deterrence  dalam “Reaksi Amerika Serikat Terhadap Pengembangan Nuklir di Iran”

Iran menyatakan bahwa pada tanggal 11 Januari 2006 akan mengembangkan teknologi nuklir damai. Nuklir yang dikembangkan untuk meningkatkan kemajuan dan perkembangan bangsa Iran dan bukan untuk membuat bom nuklir atau senjata pemusnah missal. Hal itu yang sebelumnya telah  dituduhkan oleh Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya dan berusaha mempengaruhi pandangan politik di dunia. Sehingga pada bulan April 2006 Iran kembali menjelaskan tentang masalah nuklir mereka. Pada saat itu, mereka mengumumkan bahwa mereka berhasil melakukan pengayaan Uranium dan untuk selanjutnya diteliti lebih jauh tentang kemungkinan pengalihannnya menjadi bahan bakar nuklir. Otomatis hal ini membuat dunia kaget karena akhirnya Iran kemudian dipandang sebagai negara sebagai bangsa yang benar-benar berubah dan berpotensi menjadi negara besar serta memiliki daya tawar yang kuat di atas konstelasi politik maupun sosial dunia.

Iran tetap tidak tinggal diam dalam menyakinkan dunia tentang maksud damai dari pengembangan nuklirnya. Maka sebagai langkah antisispasi guna menangkal penilaian negatif dari publik dunia, pada tanggal 13 April 2006, Ahmadinejad menjelaskan bahwa teknologi Iran untuk tujuan damai dan tidak akan memiliki ancaman bagi beberapa pihak karena pada dasarnya Iran juga menginginkan kondisi damai. Usaha Iran dengan menyakinkan dunia ternyata masih saja ditentang Amerika Serikat. AS dengan mengajak sekutu-sekutunya untuk menyakini bahwa mereka sama sekali tidak percaya atas tujuan damai program pengembangan nuklir Iran. Akhirnya AS meminta Iran untuk tidak mengembangkan nuklirnya (melakukan pengayaan Uranium lebih lanjut lagi). AS mengancam dengan menggunakan sanksi embargo. Ternyata Iran tetap tidak mundur  malah mereka menyatakan penolakan mereka kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).  Iran sejujurnya merasa heran mengapa harus menghentikan program nuklirnya sementara jika mereka juga meningkatkan nuklir dan berdalih untuk hal yang positif. Persiden Iran akhirnya menyatakan “Jika nuklir dianggap buruk, mengapa kalian (barat) boleh memilikinya? Dan jika memang nuklir dianggap baik, mengapa kami (Iran), tidak boleh memilikinya?”.

Sikap Iran yang selalu ngotot dan tidak mau memenuhi keinginan AS berdampak pada sanksi AS yaitu melakukan melakukan embargo pada Iran, pembekuan dan penahanan aset-aset Iran di bank-bank Eropa, penghapusan segala kebijakan depostik yang selama ini diterapkan cukup lama dan lain-lain. Jika diperhatikan hal tersebut dilakukan sebagai reaksi terhadap penolakan Iran dan sebuah ancaman bagi Iran. Sanksi tersebut ternyata tetap membuat Iran bertahan karena mereka merasa memperoleh manfaat dari pengayaan Uraniumnya yaitu hampir di semua bidang kehidupan, termasuk pertanian dan kedokteran.

Melihat hal tersebut Amerika Serikat tidak tinggal diam dan merencanakan ancaman berikutnya yaitu menyerang nuklir Iran. Menurut sejumlah informasi yang berhasil didapat, dijelaskan bahwa sebuah pertemuan rahasia digelar di London untuk membalas beberapa kemungkinan yang dilakukannya serangan udara atas Iran. Terutama ke wilayah-wilayah instansi pengembangan reaktor nuklir Iran. Sejak rumor tersebut beredar di kalangan internasional maka Iran tidak tinggal diam. Iran menugaskan militer serta badan intelejen untuk berjaga-jaga di daerah rawan serangan.

Amerika Serikat berharap agar banyak pihak yang membantu dalam melakukan serangan militer ke Iran. Namun, jika banyak publik internasional yang merasa keberatan atas rencana tersebut dan tidak akan membantu Amerika Serikat maka AS akan siap melancarkan serangan udara sendiri. Kemungkinan besar hanya Israel yang akan membantu Amerika Serikat dan ketika memang benar serangan udara dilakukan hanya sebatas pada pusat-pusat instalasi nuklir Iran saja.

Iran yang selalu mendapatkan ancaman dan tekanan dari AS akhirnya berusaha mengalang dukungan dari beberapa negara di dunia (yang kontra dengan AS dan sekutu-sekutunya) seperti Kuba, Venezuela, Cina, Korea Utara dan Suriah. Tentu saja hal ini semakin menambah AS semakin geram. Sepertinya perseteruan antara AS dan Iran cukup mengancam perdamaian dunia di masa yang akan datang.

Analisis Deterrence dalam Kasus di Atas

a)  The Deterrer : Pihak yang mengancam –> Amerika Serikat dengan melakukan tindakan seperti embargo dan sejumlah ancaman lainnya juga ancaman militer.

b) The Deteree  : Pihak yang diancam –> Iran dan negara ini termasuk dalam negara deteree kuat/ hard karena sulit di-deter. Dapat dilihat dari sanksi embargo yang cukup signifikan mempengaruhi negara Iran tetapi pengembangan nuklir tetap jalan dan dengan berusaha mengalang dukungan dari beberapa negara lain. AS pun akhirnya akan melakukan ancaman yang berikutnya yaitu sanksi militer dan AS mengharap bahwa ancaman ini bisa melunakkan keinginan Iran yang sangat besar dalam pengembangan nuklir.

Referensi

Buku:

Maulana Ar-Rusydi, Mirza. 2007. Mahmoud Ahmadinejad; Singa Persia VS Amerika Serikat. Yogyakarta: Garasi

Simanjuntak, D. Danny H. 2007. Ahmadinejad Menentang Amerika dari Nuklir Iran, Zionisme, Hingga Penyangkalan Holocaust. Yogyakarta: Narasi

Situs:

_____. 2007. Masa Depan Nuklir Iran. Dalam http://indonesian.irib.ir. Diakses tanggal 28 Oktober 2009 pukul 01.14 pm

Suleman, Dina. 2007. Embargo di Musim Semi. Dalam http://dinasulaeman.wordpress.com. Diakses tanggal 28 Oktober 2009 pukul 01.25 pm

Suleman, Dina. 2008. Iran, Nuklir, Khomeini. Dalam http://dinasulaeman.wordpress.com. Diakses tanggal 28 Oktober 2009 pukul 01.23 pm

(sumber gambar: david-lampe.de)

“Karikatur kasus lain dari deterrence tetapi Kuba menjadi pihak yang diancam AS

Oleh: Fauziah

NB: Mohon menjaga “orisinalitas’” tulisan ini. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang “jujur”. Terima kasih.

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s