Review Kuliah Studi Keamanan dan Strategi dalam “Balance of Power”

PENGERTIAN BALANCE OF POWER SECARA UMUM

  • Balance of Power adalah perimbangan kekuatan/ power yang dilakukan oleh suatu negara untuk bisa mengimbangi kekuatan/ power negara lain.
  • Balance of Power juga bisa diartikan sebagai sebuah sistem politik untuk mencapai adanya kekuatan/ power antara negara-negara di dunia, sehingga kekuatan/power ini mampu seimbang/ berimbang.

HAKEKAT BALANCE OF POWER

  • Merupakan sebuah upaya untuk mencegah munculnya kekuatan/ power pada suatu negara atau sekumpulan negara.
  • Merupakan sebuah upaya untuk menambah kapasitas kekuatan/ power negara sendiri sehingga mampu mengimbangi kekuatan/ power negara lain.
  • Merupakan sebuah upaya untuk menciptakan kerja sama yang berorientasi kekuatan/ power antara negara lemah dengan negara kuat (aliansi).
  • Merupakan sebuah upaya untuk membantu atau melindungi keberadaan negara-negara lemah terhadap negara-negara kuat dalam kanca internasional

(sumber gambar: dialogopolitico.net)

ASUMSI BALANCE OF POWER

  • Bukan konsep presisi dan bukan konsep yang mudah diukur.
  • Ernst Haans menyatakan konsep secara ekstensif digunakan 8 versi yang berbeda, yaitu:
  1. Ekuilibrium/ keseimbangan terjadi merupakan akibat dari distribusi kekuatan negara-negara yang seimbang.
  2. Ekuilibrium/ keseimbangan terjadi merupakan akibat dari distribusi kekuatan negara-negara yang tidak seimbang.
  3. Ekuilibrium/ keseimbangan terjadi merupakan akibat dari dominasi satu negara.
  4. Suatu sistem yang relatif stabil dan damai.
  5. Suatu sistem yang dicirikan oleh ketidakstabilan dan perang.
  6. Cara lain untuk menyebutkan kekuatan politik.
  7. Suatu dalil sejarah yang universal.
  8. Seatu pedoman bagi pembuat keputusan.

KENNETH WALTZ MENGEMUKAKAN ADA DUA SYARAT BALANCE OF POWER

  • Tatanan dunia yang bersifat anarkis.
  • Tatanan yang dipenuhi oleh aktor atau unit yang ingin selalu mempertahankan hidupnya.

EMPAT  PRASYARAT EKSISTENSI SISTEM BALANCE OF POWER

  • Multisiplitas aktor-aktor politik yang berdaulat karena tidak ada satu otoritas yang kuat, terpusat dan legitimate yang menguasai aktor-aktor tersebut.
  • Distribusi kekuatan yang relatif tidak seimbang diantara aktor-aktor politik yang dibentuk oleh suatu sistem sehingga ada 3 macam kategori negara yaitu negara besar, negara meneangah dan negara kecil.
  • Terjadi persaingan dan konflik yang berkesinambungan namun terkendali diantara aktor-aktor politik yang berdaulat karena ada persepsi bahwa dunia merupakan sumber-sumber langka dan ada nilai-nilai tertentu lainnya.
  • Pemahaman implisit diantara pemimpin negara-negara besar bahwa kesinambungan distribusi kekuatan nantinya akan menguntungkan mereka.

 BALANCE OF POWER DAN POLICY MAKERS

  • Pertimbangan diantara dua hal apakah hal ini akan mengarahkan kepada penyelesaian bentuk perang atau damai (dalam hal ini melakukan negosiasi)

KONDISI BALANCE OF POWER

  • World Order –> Tatanan dunia yang teratur. Ex. Peningkatan senjata nuklir pada saat ini.
  • Internasional Chaos –> Kondisi dunia yang kacau. Ex. Pada PD II

TEORI TENTANG EMPAT PRASYARAT EKSISTENSI SISTEM BALANCE OF POWER  MEMPERLIHATKAN TENTANG:

  • Sejumlah besar negara-negara membentuk aliansi kemudian membubarkannya.
  • Area geografis yang terbatas.
  • Kebebasan bertindak bagi pemimpin-pemimpin nasional.
  • Persamaan hak yang relatif di dalam kemampuan negara-negara.
  • Suatu kebudayaan politik bersama dimana peraturan-peraturan sistem dihargai dan diakui.
  • Sejumlah kecil kebersamaan anggota-anggota sistem.
  • Teknologi persenjataan dengan cepat menghalangi mobilisasi perang.
  • Tidak adanya kemampuan institusi internasional dan supranasional mengintervensi.

KERUGIAN DARI SISTEM BALANCE OF POWER

  • Publik Good Problems adalah dapat terjadi hal buruk yaitu perang yang mana bisa menghancurkan kehidupan sosial.
  • High Opportunity Costs adalah mengeluarkan biaya cukup besar dalam meningkatkan kapabilitas kekuatan negara untuk mengimbangi kapabilitas kekuatan negara lain.

BALANCE OF POWER DALAM SEJARAH MODERN

  • Balance of Power klasik masa jayanya tahun 1648 (Perjanjian Westphalia) – tahun 1789 (Revolusi Prancis). Cirinya ada hegemoni politik dan ekonomi negara-negara, tidak ada negara status quo berhadapan dengan negara revolusioner. Revolusi Prancis secara radikal mengoyahkan balance of power klasik yang diprakarsai oleh Napoleon.
  • Napoleon kalah
  • Konggres Wina (1815) untuk mendirikan balance of power di Eropa. Dibawah kepemimpinan Matternich dari Australia dan Tsar Alexander dari Rusia.
  • Sistem ini sampai awl mula PD I. Abad ke 19 (1815-1914) disebut jaman keemasan kedua  sistem balance of power klasik.
  • Berdiri dinasti Bourbon di Prancis dan kembali kepada praktek politik internasional yang stabil, secara ideollgis bersifat homogen. Berarti pemerintah Eropa secara ideologis sepakat tentang sifat hubungan yang akseptabel antara penguasa dan yang dikuasai. Persamaan ideologis lain adalah pemerintah tidak ingin mennganggu aktivitas bidang sosial, ekonomi, agama, lingkungan dan pendidikan (laisses-faire).
  • Pada masa itu Inggris juga dianggap penjaga balance of power.
  • Abad ke-19 hukum internasional berkembang pesat.
  • Abad ke-20 adalah abad revolusioner. Ada tiga macam pergerakan yaitu Fascisme Italia pimpinan Mussolini dan Nazi Jerman, Komunisme pimpinan Uni Soviet dan Cina, Kapitalisme pimpinan AS dan sekutu-sekutunya.
  • Balance of power revolusioner tersebut merusak sistem balance of power klasik.
  • Sejak PD II senjata nuklir berpengaruh dalam meredam konflik AS dan Uni Soviet yang sudah diambang akan terjadi perang nuklir global.

MODEL-MODEL BALANCE OF POWER PASCA PD II

  • Unipolar

Ada satu kekuatan negara hegemoni dalam internasional.

  • Bipolar

Ada dua kekuatan negara hegemoni dalam internasional.

  • Bipolisentris

Lanjutan dari militer kuat AS dan Uni Soviet serta sekutu-sekutunya yang percaya bahwa negara superpower adalah pelindungnya.

  • Multipolar

Adanya sejumlah kekuatan yang relatif sama terhadap sistem balance of power sehingga muncul distribusi kekuaasaan yang baik. Ex. AS, Jepang, China, Jerman dan Rusia.

MODEL DAN HIPOTESIS MENGENAI POLITIK GLOBAL (MORTON A. KAPLAN)

  • Model Oligopolar/ Balance of Power Klasik

Model Balance of Power Klasik yang terbaik pada tahun 1815-1914. Ketika sistem internasional meliputi 5 kekuatan besar dan tidak ada organisasi regional maupun internasional. Aliansi tersebut sifatnya spesifik dan singkat serta pragmatis (bukan bersifat ideologis).

Perang antara negara besar dibatasi dan perang antara negara kecil tidak diperbolehkan berlarut-larut dan penyelesaian sesuai dengan kepentingan negara-negara besar.

  • Model Bipolar Loggar

Harus ada dua super power yang keduanya bertindak sebagai sekutu, pelindung dan pengontrol negara-negara yang termasuk dalam bloknya. Menitikberatkan maslah nuklir sehingga harus ada aliansi yang dilembagakan, sifatnya formal, jangk panjang, ada kepentingan permanen dan tersirat dalam istilah-istilah ideologis.

Ada dukungan yang besar dalam terselenggaranya perang sehingga sistem ini sifatnya total dan tidak ada kompromi.

  • Model Bipolar Ketat

Asumsi utama semua negara non-blok akan terserap masuk ke dalam salah satu blok.

Model ini seperti dibagi dua kerajaan besar, satu dikepalai oleh Washington dan lain Moskow. Permusuhan yang tidak terselesaikan tentang ideologi dan keamanan hampir sama dengan model bipolar longgar kecuali sekarang permusuhan itu telah meluas ke seluruh dunia.

  • Model Veto-Unit atau Proliferasi

Ada pola hubungan internasional yang tidak stabil dan berbahaya. Melukiskan adanya sistem internasional dimana banyak negara mempunyai kemampuan senjata nuklir yang relatif terpercaya dan diandalkan sebagai penangkal apabila ada negara lain yang ingin menyerang. Sehingga negara tersebut juga membatasi hubungan dengan negara yang dicurigai tersebut dengan menggunakan sistem veto-unit (mengurangi pertukaran barang, penduduk dan jasa yang melewati batas-batas negara).

Sistem ini bisa lebih berbahaya apabila aktor sub-nasional mempunyai senjata nuklir atau militer lainnya yang kemungkinan bisa digunakan.

Aktor tersebut adalah teroris/ kelompok pembebasan, mafia, perusahaan multinasional, komunitas etnik.

Jadi dalam sistem ini para pemimpin negara harus menyetujui bentuk kekuatan terpusat yang mempunyai persediaan nuklir dan mampu menghacurkan seluruh cadangan nulkir.

  • Model Keamanan Kolektif

Ada sistem pengaturan yang sifatnya sukarela. Kekuatan militer tidak boleh menjadi alat politik, tidak ada aliansi jangaka pendek dan jangka panjang, setiap agresi yang dilakukan oleh negara terhadap negara lain akan mendapatkan hukuman (sanksi ekonomi dan militer) yang sebelumnya telah ditetapkan negara-negara secara kolektif.

Sistem ini relatif aman tetapi dianggap terlalu idealis dan tidak praktis. Mirip struktur primitif dari balance of power. Sistem ini menghendaki negara mematuhi aturan moral dan hukum.

Sistem keamanann kolektif tidak realis karena implementasinya menghendaki agar negara berada dalam satu sistem balance of power yang pada dasarnya tersebar menahan diri agar tidak masuk aliansi.

  • Model Multiblok atau Model Inter-Regional

Model ini ada dua macam yaitu pertama, menggambarkan dunia terbagi dalam 5 atau 7 wilayah pengaruh yang eksklusif dimana terdiri dari hierarki negara yang dikontrol oleh satu negara besar di dunia. Negara besar akan melembagakan wilayah pengaruh masing-masing melalui organisasi kemanan. Masing-masing negara besar tidak ikut campur urusan internal negara.

Kedua, Model ini terbentuk karena keberhasilan dalam integrasi politik dan ekonomi diantara negara-negara di dunia.

  • Model Fragmentasi (Pemilahan) Nasional atau Model Multipolar

Terjadi disintegrasi politik dan ekonomi sehingga muncul aksi atau tindakan dari unit politik, gerakan separatis etnik, kesukuan, rasial dan ekonomi.

Sebelum integrasi global ada fase fragmentasi (pemilahan) terhadap negara nasional yang ada, khususnya negara-negara yang kekuatan dan kekayaan sangat tidak proposional. Fragmentasi akibatnya menimbulkan faktor-faktor yang tidak dapat diperhitungkan (tingkat dan intensitasnya dalam konflik domestik dan internasional).

  • Model Pasca-Perang Nuklir

Model ini terjadi jika ada perang nuklir dan ada rezim yang paling tirani yang mengatur tata tertib, memberikan perlindungan dan bantuan (medis/ makanan).

  • Model Hierarkis atau Model Monopolar

Model ini berada di luar kelompok sistem politik yang sifat desentralisasi balance of power. Pengaturan internasional yang bersifat pyramidal yang bisa dicapai melalui negara dunia.

KESIMPULAN

  • Balance of Power efektif jika negara-negara tunduk pada pemimpin rasional yang konstan berusaha menjaga keberadaan negara.
  • Balance of Power masih relevan sekarang karena keberadaan AS tetap ada pengaruh kuat dalam internasional.

Oleh: Fauziah

NB: Mohon menjaga “orisinalitas’” tulisan ini. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang “jujur”. Terima kasih.

One thought on “Review Kuliah Studi Keamanan dan Strategi dalam “Balance of Power”

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s