China Sebagai Raksasa Ekonomi

Kekuatan ekonomi suatu negara diperoleh dari pengorganisasian suatu pengetahuan dan teknologi untuk mengeksplorasi alam yang dimiliki. Sumber yang tersedia di suatu wilayah akan menentukan kekuatan ekonomi suatu negara, tentunya didukung dengan faktor-faktor lain. Kemampuan mengeksplorasi diri dan memanfaatkan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat, menggunakan nilai lebihnya untuk memacu perkembangan teknologi (selain membiayai pendidikan dan kesejahteraan material rakyatnya) menjadi syarat-syarat yang dimiliki oleh negara kuat.

98333

(Sumber Gambar: koran-jakarta.com)

China mempunyai potensi alam yang luas dan kaya, itulah yang membuat peradabannya berlangsung selama beribu-ribu tahun. Apalagi potensi ekonomi China didapatkan dari alamnya yang luas dan penuh, seperti pada sungai Kuning yang telah terkenal selama berabad-abad memberikan kesejahteraan bagi warganya. Sungai ini melarutkan tanah lapisan atas lereng-lereng bukit gunduk dan membawanya jauh dalam aliran deras berlumpur, sehingga diberinya nama kuning melintasi 3 ribu mil daratan China ke Laut. Sungai Kuning dan Yangtze mengendapkan hampir tiga juta ton sendimen setiap tahun ke alam Laut China timur dan ribuan tahun mendatang akan menjadi hidrokarbon.

Faktor yang membuat ekonomi China tumbuh amat tinggi, setidaknya menurut penyampaian Presiden Republik Rakyat China, Hu Jintao, dalam Forum Tahunan Konferensi Boao di Tainan, karena adanya aliran investasi luar dan dalam negeri yang amat luar bisa. Investasi terutama terasa di industri, infrastruktur dan properti. Pemerintah China katanya akan secara amat berhati-hati menangani masalah ekonomi yang kepanasan ini, termasuk mengatur aliaran investasi dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

Namun terlepas dari aspek negatif itu, China masih meraih kesuksesan yang mencenangkan dunia. Pertama, investasi yang amat hebat tersebut membuka lapangan pekerjaan yang amat besar.

Kedua, amat terbukanya lapangan kerja, di antaranya membuat rakyat China meraih pendapatan perkapita yang lumayan, dari 300 dolar AS pada tahun 20 tahun silam menjadi 1.100 dolar AS pada tahun 2004 (di beberapa kota besar seperti Shanghai, pendapatan perkapita rakyat bahkan mencapai 6.700 dolar AS). Pergerakan angka ini, 300 dolar menjadi 1.100 dolar AS, memang tampak “kecil” tetapi hendaknya jangan diremehkan. Perlu diketahui loncatan pendapatan dicapai dalam tempo 20 tahun, untuk sebuah negara yang amat luas dan dengan jumlah penduduk yang begitu spektakuler: 1,3 miliar jiwa.

Pada sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dan terbukanya lapangan kerja pada gilirannya membuat China secara istimewa membawa lebih kurang 220 juta warganya keluar dari ruang kemiskinan yang parah. Hasilnya adalah PDB yang berlipat empat sejak 1978. Pada 1999 dengan jumlah populasi 1,25 miliar orang dan PDB 3.800 dolar AS per kapita, China sudah menjadi negara dengan ekonomi terbesar keenam di dunia dari segi nilai tukar, dan ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan AS dalam daya beli. Pendapatan pertahunan rata-rata pekerja China diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8 persen per tahun.

Yang lebih mencenangkan, ekspor China ke AS mencapai 125 miliar dolar AS pada tahun 2002, sebaliknya ekspor AS ke China hanya 19 miliar dolar AS. Perbedaan ini utamanya disebabkan oleh fakta bahwa orang AS mengonsumsi lebih banyak dari yang mereka produksi dan tentu saja karena orang China yang dibayar rendah tersebut tidak mampu membeli produk mahal AS.

Ketiga, investasi yang hebat membuat pembangunan di China, terutama di belahan utara, tengah, timur dan selatan, cukup merata.  Semua provinsi, berdasarkan otonomi yang diberikan pemerintah pusat, kemudian berlomba-lomba membangun industri di daerahnya.

Pemerintah China juga memfokuskan diri dalam perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi. Untuk itu mereka mendirikan lebih dari 2.000 Zona Ekonomi Khusus (Special Ekonomic Zones, SEZ) di mana hukum investasi diliberalisasi untuk menarik modal asing.

Akhirnya, China muncul sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru, dan merupakan negara berkembang yang paling besar menerima investasi asing dengan jumlah yang terus meningkat. Sebagai contoh, jika pada 1985 investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/ FDI) tahunan mengalir ke China hanya mencapai $1 miliar, maka pada 2002, jumlah tersebut menembus angka lebih dari $50 miliar. Bahkan, ketika FDI bergerak lambat pada 2001 dan 2002 arus masuk investasi asing ke CHina tetap meluas. Menurut catatan presiden China, Hu Jintao, pemerintahannya telah menyetujui 590 ribu investasi asing dalam menggerakkan mesin perekonomian, sejak keterbukaan dimulai 29 tahun silam.

Menurut ekonomi CSIS, Marie Pangestu, yang berbicara dalam acara Asia Pasific Outlook 2004 di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Rabu 7 Juli 2004, untuk triwulan pertama 2004, ekonomi China sudah tumbuh sebesar 9,7 persesn. Sementara inflasi sendiri sebenarnya belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, yaitu mencapai 2,7 persen. Ini memang jauh lebih tinggi dari inflasi 0,9 persen pada tahun 2003.

Masalahnya, perekonomian China telah menjadi motor utama ekonomi Asia. Ini ditandai dengan defisit neraca perdagangan dengan negara Asia lain semakin lebih besar dan sebaliknya neraca perdagangan dengan AS mengalami surplus. Artinya, China mengimpor bahan baku dari Asia dan kemudian dikonsumsi sendiri dan sebagaian diekspor ke AS. Akibatnya, suatu penurunan pertumbuhan baik secara signifikan atau tipis akan berdampak bagi perekonomian negara Asia lainnya. Apabila pertumbuhan ekonomi China turun menjadi 5 persen maka ekonomi Jepang akan turun menjadi 1,9 persen. Dan elastisitasnya kepada negara Asia lain akan meningkat pada tahun kedua dan ketiga penurunan pertumbuhan.

Sebagaimana diketahui, China dikenal sebagai produsen dan eksportir terbesar barang-barang elektronik dan teknologi informasi. Diperkirakan, sektor ini menyumbang sebesar 28 persen dari total ekspor China. Menurut laporan organisasi kerja sama dan pembangunan (OECD) pada 2006, China kini telah melangkahi posisi AS sebagai penyuplai terbesar barang-barang teknologi informasi.

Karena ekonomi berkembangang dan tenaga kerja terserap ke dalam pasar kerja, pendapatan pun didapat. Ada pendapatan, maka ada pengeluaran untuk memuaskan kebutuhan hidup.

Tidak sedikit masyarakat China yang menikmati pendapatan tinggi. Mudahnya mencari pendapatan dan kemajuan ekonomi yang ada menyebabkan mereka mampu memenuhi kebutuhan hidupnya yang terus meningkat . Sekarang ini, penduduk China berhasil menikmati akibat mobilisasi sosial ke atas, di antara mereka adalah para eksekutif muda dan kelas menengah, mulai memikirkan barang-barang konsumsi untuk menegaskan gaya hidupnya.

Itulah yang menyebabkan barang-barang mewah banyak membanjiri China, entah yang diproduksi oleh industri dalam negeri maupun luar negeri. Hanya dalam 10 tahun, China dapat menyaingi Jepang sebagai konsumen papan atas barang-barang mewah di dunia. Hal itu dilaporkan perusahaan konsultan Ernst and Young, pada hari Kamis 15 September 2005, dalam laporannya yang berjudul China: The New Lap of Luxury yang mengatakan bahwa: “Tahun 2015, konsumen China akan sama pentingnya dengan konsumen Jepang dan menyumbang 29 persen terhadap seluruh pembelian barang-barang mewah dunia”.

Saat ini, China adalah konsumen barang mewah terbesar ketiga di dunia setelah Jepang dan Amerika Serikat. China menyumbang 12 persen dari penjualan dunia untuk barang-barang luks, Jepang 41 persen dan AS 17 persen. Diperkirakan, China akan menggeser posisi AS sebab diperkirakan konsumsi barang mewah China akan meningkat 20 persen pertahun hingga 2008, kemudian meningkat 10 persen pertahun hingga 2015. Ernst and Young memperkirakan penjual barang-barang mewah yang ada di luar negeri juga akan memperoleh keuntungan dari kecenderungan ini.

Alasannya, orang China semakin sering berpergian ke mancanegara, karena kurs Yuan semakin kuat. Para pelancong China juga mulai memamerkan kekuatannya dalam membeli di luar negeri. Ini akan meningkatkan sektor barang mewah di pasar luar negeri. Para pedagang barang mewah yang ingin sukses di pasar China tidak boleh hanya memikirkan keuntungan sesaat. “Mereka seharusnya menanamkan investasi jangka panjang untuk mengamankan pangsa pasar yang nantinya penuh dengan persaingan,” kata Conway Lee, pakar ritel Ernst and Young.

Salah satu proyek besar yang pernah dikerjakan adalah “Proyek Bendungan Tiga Ngarai” yang tentu saja memelurkan sumber daya dalam jumlah sangat besar dan perlu satu generasi untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, proyek ini sangat rentan terhadap perubahan politik dan kebijaksanaan mendadak yang telah menjadi ciri China sepanjang abad ke-20. Bahkan jika bendungan tersebut akhirnya dibangun pun, hal tersebut hanya sedikit mengatasi situasi energi China yang suram selama masa kritis sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang.

Prospek minyak lepas pantai di perairan China yang diakui secara internasional tampaknya juga buruk, minimal jangka pendek mendatang. Perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal lebih dari 2 miliar dolar dengan hasil yang mengecewakan, walaupun awalnya berharap akan mendapatkan hasil yang bagus, di laut lepas China Selatan, 120 mil sebelah selatan barat daya Hongkong. Walaupun demikian, prospek yang lebih luas minimal untuk laut-laut sekitarnya yang jelas terasa di perairan teritorial China tampaknya tetap kelabu.

Sumber:

Penulis: A. Zaenurrofik

Judul Buku: China Naga Raksasa Asia (Rahasia Sukses China Menguasai Dunia)

Halaman: 158-164

One thought on “China Sebagai Raksasa Ekonomi

Silahkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s